Thursday, May 15, 2003

CANON IN D

sampai detik ini aku tak tahu, apa gerangan menghantar bayang wajahmu ke mataku,
menclok seperti kakak tua di jendela waktu, tak ada angin tak ada badai tapi sempat mengabnormalkan ketuk dadaku

apa pula gerangan menggerakkan jempol tangan ibumu saat salah pencet tadi pagi,
smsmu minta maaf bilang beliau gagap teknologi dan tak sengaja pencet nomor satu yang delalahnya fast search nomor ponselku

kau aku tahu
seributigapuluh hari kemarin berlari tanpa tanda

nomormu sudah hilang dari dadaku sekian lama, sejak kita tak lagi nyaman pulang bersama sambil tak henti bertanya
apakah ini cinta lokasi cinta setengah mati atau malah empatperempat mati
dari ponselku nomor itu sudah pula empat mingguan hilang di perjalanan, sejak tanganku repot tentukan prioritas: pegang undangan, bayar ongkos atau menyelipkan handphone ke kantong jaket di jok belakang taksi

ah sebetulnya aku tak peduli, jika kau tidak sekonyong-konyong bilang ingin jadi dewasa dan menjalin lagi pertemanan kita meski tidak seperti dulu
aku tak juga peduli, ada atau tidak ada kebetulan-kebetulan mengherankan yang hinggap sekali dua kali bahkan berkali-kali

sudahlah, sudah. di mejaku berdiri secangkir kopi tanpa tatakan setengah terisi, sebuah radio butut dengan perulangan-perulangan lagu nostalgi, bertumpuk buku yang minta diterjemahi, berlembar kertas yang minta ditulisi, kalender bertanggal merah yang dengan semangat empatlima telah kulingkari, pensil tumpul, cutter baru, gunting tak berfungsi, pulpen-pulpen tanpa isi

sudahlah, sudah. seharusnya semua sudah selesai dari tadi, sebelum kelebat-kelebat itu kuanggap halusinasi akibat loncatan-loncatan listrik di kepalaku salah tempat lagi
seharusnya semua sudah selesai dari tadi, sebelum kejungkirbalikan ini mengkambinghitamkan virus yang belum terdefinisi dan kursi yang semakin panas diduduki
tuhan tolonglah! seharusnya semua pekerjaan kantorku sudah selesai dari tadi
dan bukan malah menjadi puisi

indah ip
9 april 2003
13.45 pm

No comments: