Tuesday, May 20, 2003

MASIH TENTANG SENYUMAN

ibu mengajarkan keikhlasan & pengorbanan kepada janin di rahimnya dengan senyuman
bapak mengajarkan kepemimpinan & jiwa besar dalam menerima kekalahan kepada puteranya dengan senyuman
kehadiran anak mengajarkan kesabaran & keindahan kepada orang tuanya dengan senyuman

seperti tunas-tunas hijau akasia sepanjang jalan, meneduhkan
seperti oase di padang-padang tandus tak bertuan, menghidupkan

selengkung senyum ibu setiap menarik selimut dan mengusap kening sebelum tidur ketika kecil dulu
selengkung senyum ayah melihat jagoan kecilnya bisa makan sendiri meski dengan remah-remah tak rapi menempel di pipi

seperti jampi-jampi pelindung mimpi, mengamankan
seperti energi-energi tak bertepi, menguatkan


indah ip
13 oktober 2002
12:40 pm


BOCAH KECIL MEMBAWA SENYUMAN

I
bocah kecil berlarian di pinggir dipan
tak dilihatnya pipi ibu basah diantara yasin bersahutan
"hey, hey, bapakku lagi tidur lho!"

bocah kecil berlarian di pinggir dipan
membawa senyuman ke setiap mata tanpa tahu kenapa semakin orang-orang sesenggukan ketika kembali ia bernyanyian
".. nina bobok oo,.nina bobok,..bapak capek ya, 'mak, kasihan.."

II
orang-orang menampung hujan di mata
duduk mengeliling keranda
menyembunyikan isak lirih tanpa bisa menjelaskan makna tiada
pada bocah kecil yang tak henti membawa senyuman dan bertanya-tanya
kenapa bapak tak lagi mau main dengannya


indah ip
13 oktober 2002
10:12 am



SEBELUM KAU PAMIT
:bunga rumput liar

ingatkah ketika sedih, sudah lama kita kurung adagio di bawah bangku piano nostalgy dalam andante lah pula kita buang di belakang rumah
ketika aku ingin membakarnya, kau berkeras ingin melarungkannya
" abu dan asap selalu bisa kembali menyesak kerongkongan kita, sayang! tapi alir kan membuatnya pergi selamanya "
dan kau bebaskan lembar-lembar lapuk itu menuju perhentiannya sendiri

sahabatku, memang tak perlu jadi bunga matahari untuk mencari sejati
tak juga perlu sewangi melati tuk rayu kumbang-kumbang pagi
kau adalah kau
yang hanya perlu menjadi diri sendiri di taman manapun ingin berdiri
seperti juga kelopak zepiranthus liar yang tak pernah luntur meski hujan deras mencucuri tubuh mungilnya di balik pohon mangga tetangga pun sela-sela pagar

indah ip
2 Sept 2002
22. 09 pm

No comments: