Thursday, January 31, 2008


MIGREN INI TAK PERNAH BISA MEMBUNUH



tadinya kupikir migren adalah penyakit yang muncul setiap kali mengunyah sebatang coklat. tapi suatu sore ia muncul setelah kuhabiskan teguk terakhir kopi instan yang tak terlalu pahit. kali lain ia muncul setelah layar monitor kumatikan dan puisi telah titik kugenapkan.

tadinya kupikir migren adalah penyakit yang tersangkut di bagian entah mana kepalaku. kadang di kening, kadang di pangkal leher. kadang di muka, kadang di belakang. kadang di kiri, paling sering di kanan. tapi suatu hari migren seperti jatuh dan tersangkut di dadaku. sebab bukan kepala yang terasa pecah melainkan hati gelisah yang berdarahdarah.

tadinya kupikir migren adalah penyakit yang bangkit ketika musim hujan sedang derasderasnya di kelopak mataku. tapi kemudian ia datang juga ketika jarum-jarum terik menancapi dada. masa cerah, masa gemetar yang indah, masa ketika kuncup bunga sedang hendak mekar dan sayap anak kupukupu sedang berjuang lepas dari kepompongnya mencari bebas.

tadinya kupikir migren adalah penyakit yang akan membunuhku pelanpelan tanpa terasa. menggerogot secuil demi secuil kesadaran hingga lunglai dan hilang daya. tapi kali lain ia seperti hendak membuktikan bisa menyerang terangterangan. mendadak, melumpuhkan, meremukkan, mematikan sekejap. datang tak diundang pun diharap. menyelinap di penggal hari tanpa jejak pun tanda mula.

tadinya kupikir migren adalah penyakit yang menakutkan. sebab ia menyiksa korbannya saat lemah dan lengah. kali lain kupikir ia menjengkelkan. terapi ini itu, ke dokter syaraf, menelan butirbutir ajaib dari apotik dan seribu observasi tak berhasil menyembuhkan juga.

tadinya kupikir migren adalah penyakit. sebenarbenar penyakit. sampai aku menemukanmu.

sepintas tak ada yang berubah. tapi aku mulai berpikir ia mungkin bukan penyakit melainkan sejenis mahluk ajaib. bisa dibenci bisa disayang.

mungkin ia adalah tanda. sinyalsinyal negeri pelangi yang tak semua orang alami dan pahami.

mungkin ia adalah badai. adalah ombak. adalah gejolak. adalah perih yang entah kapan mulai jadi candu dan gelitik yang dirindu.

sejak menemukanmu aku temukan obatnya. migren adalah migren saja jika aku ingin dia tak menjadi apa-apa. ia putih jika aku ingin putih. ia hitam jika aku ingin hitam. ia kelabu jika aku ingin kelabu.

migren adalah migren saja. tak patut jadi kambing hitam bagi seluruh ketaknyamanan. tak patut jadi alasan bagi seluruh ketakselesaian dan takkesudahan hari.

sejak menemukanmu aku berani memutuskan jadi temannya bukan musuhnya. ia kemudian jadi sedikit terkendali. ada jika kuinginkan, tak ada jika tak kuinginkan. ada jika kuhidupkan, tak ada jika tak kuhidupkan.

bebas? sama sekali tidak! kadang masih muncul sekonyongkonyong. sekedar mengejutkan dan memberi perhatian. tapi aku tak keberatan, kau tahu, sungguh tak pernah lagi keberatan. sebab aku memang tak suka sendiri. bila merindumu ia jadi teman setia yang refleks kuharapkan segera. teman seluruh muntahku, tumpahbuncahku, perihsembiluku.

migren adalah migren saja. mengobatinya bukan menghilangkannya tapi mengubah penilaian terhadapnya.

seperti memilih salah satu sisi mata uang. positifkah, negatifkah. terangkah, gelapkah. fokus pada nilai kebahagiaan dalam syukurkah atau terjebak mengukur ketakbahagiaan dalam keluh. memandang mawar sebagai sumber petaka karena tajam durinyakah atau mawar sebagai simbol cinta karena warna dan indahnya. memandang kaktus sebagai tumbuhan menyakitkan karena jarum sepenuh kulitnyakah atau sebagai surga bagi pejalan tengah padang yang kehausan karena air yang sembunyi di batangnya. memandang kemboja sebagai bunga mencekam dan magis karena imej mekar di petak kuburankah atau sebagai bunga persembahan yang lembut abadi dan obat bagi sejumlah penyakit dalam ramuan yang tepat.

sejak menemukanmu entah kenapa aku tak lagi terganggu tapi justru menunggununggu. puncak adrenalin akibat siksa rindu yang gencar kau gelombangkan jadi tak pernah cukup. aku menikmatinya. sangat menikmatinya.

sejak menemukanmu (atau ditemukan olehmu?) migren kupikir momen hidup yang paling hidup. berkalikali memporakporanda isi kepala dan dada tanpa ampun tapi toh tak pernah bisa membunuhku.

sebab pada akhirnya aku yang menang. sebab pada waktunya ia yang selalu pergi dan aku yang tetap kekal disini.


indah ip
31 januari 2008, 2.44 pm

No comments: