Friday, September 19, 2003

sebuah cerpen pendek
NEGERI DONGENG
Oleh Indah IP

Ia tak tahu kenapa ibu menangis. Ia juga tak tahu di mana sesungguhnya sedang berada. Mungkin negeri dongeng. Langit-langit keabuan di atas kepalanya adalah layar-layar perahu seperti yang sering dilihatnya dalam buku cerita. Tulang-tulang tebal yang menghubungkan setiap bagian layar mungkin adalah perpanjangan tali jangkar yang sedang menahan beban di laut lepas. Ia sendiri adalah puteri raja yang berbaring dalam singgasana mewah berkelambu. Orang-orang ramai di sekelilingnya adalah dayang-dayang atau bidadari yang menunggu perintah tuan puteri. Setiap orang dilihatnya berlarian ke sana ke mari, terseok-seok menggendong sesuatu di dalam hati. Kepalanya berputar. Berangsur-angsur segala pendar dan buyar.

Ia masih tak tahu kenapa ibu menangis. Yang ia tahu ia adalah puteri yang sedang mengungsi dari istana sendiri. Sesayup terdengar negeri tercintanya porak poranda. Sejumlah saluran terkontaminasi. Penampungan-penampungan air kosong dan hancur. Jendela-jendela pecah berhambur. Selokan-selokan mengalirkan bau anyir menusuk hidung. Rumah-rumah pengap terkurung. Toko-toko tutup. Makan dan minum tak cukup. Anak-anak tak lagi bisa berlari. Sepanjang jalan ada duri dan api. Selongsong kosong menyerak di ujung kaki. Juga keping-keping hangus tak jelas arti. Wajah-wajah pasi. Pohon-pohon mati. Hewan-hewan pergi. Penyakit silih berganti. Para ibu meratapi sekarat bayi-bayi. Para ayah mengayun langkah untuk tak kembali. Lolong di kejauhan yang tiba-tiba memecah telinga kesekian kali adalah dentum terakhir sebelum diyakininya waktu berhenti.

Demikianlah setiap membuka mata ia nyaris frustasi. Tak ditemunya arti tangis ibu yang kian menusuk hati. Hingga suatu ketika ia bangun setelah bermimpi. Menemukan diri tak lagi seorang puteri. Tapi seonggok tubuh yang menggelontorkan cairan basi. Telinganya menangkap denyut cacing-cacing tanah sekaligus sinyal negeri antah berantah. Matanya menangkap sesuatu menandak-nandak menyusun ingatan tentang riuh pasar sebelum ledakan besar memisah gandeng tangannya dengan ibu. Pagi itu ia cuma ingin membeli sandal baru. Tak lebih. Tapi mungkin itu suatu kesalahan hingga harus ditanggungnya perih. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya. Seperti ada yang sedang mengelupas setiap detik tak berhenti. Berpacu dengan waktu dalam kecepatan tinggi. Dan mulai didengarnya ratap menyayat hati, tangis pilu bayi-bayi. Ia menggigil. Dingin menembus tulang-tulangnya. Membuat kebas organ-organ tubuhnya. Menggeretakkan rahang dan giginya sebelum berhasil menganga.

Dalam tenda seadanya seorang ibu menguras air mata. Tak sanggup menjawab tanya lirih bidadari kecilnya tanpa tenaga, “ Ibu, kenapa kakiku tak terasa ? ”. Senja tiba-tiba kehilangan cahaya ketika tak lama selimut ditarik menutup dada kemudian genap menutup kepala.

Jakarta, Maret 2003

Wednesday, September 10, 2003

SURAT BUAT IBUNDA

kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh
ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang
ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda

sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai
tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang

kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga
ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam
tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata
tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda

seperti pesan bunda,
nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh
nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar

tak pernah mudah, ibunda, tak pernah
jika sesekali nanda berhenti
nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah
tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi

tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah
tapi nanda tak gentar
sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda

indah ip
14 juli 2003
8.56 am