Sunday, March 21, 2004

SENJA

aku mencintai senja yang jatuh
di antara siluet beton-beton vertikal
bayang dedaun saga tepi trotoar
wajah-wajah penat penumpang bis kota
asap hitam dan deru knalpot yang tak henti bersuara

aku mencintai senja yang jatuh
di antara debar jantung merindu pulang
senja yang senantiasa menawarkan pagi
harapan untuk segera datang lagi
esok hari

indah ip
19 febr 04



SELENGKUNG SABIT

satu petang selengkung sabit bercerita tentang kota sangat jauh yang tak pernah tidur
warganya menghambur hingga sudut-sudut

biasanya sang sabit tak kenal sepi
sebab selalu ada mimpi yang minta disinggahi
lengkungnya bertambah cerah dan lebar sampai pagi

tapi kali itu di atas trotoar sang sabit termenung
di balik bayang gedung menjulang dan rimbun pepohon dilihatnya
seorang ibu resah
tak mampu hangatkan tubuh gigil anaknya yang kurus menahan lapar

inilah kali pertama lengkung sabit itu demikian sedih dan putus asa
merasa tak sanggup berbuat apa-apa
hingga membiarkan dirinya berangsur-angsur pucat dan tenggelam
di telan awan
dan redup angkasa

indah ip
25 februari 2004
9.05 am

Monday, March 01, 2004

TELAH SAMPAI SEGALA KEINDAHAN ITU


sebelumnya berkali-kali, fa, tak terbendung
kutangkap berhamburan cahaya dari sudut matamu
di antara gusar yang luput tersembunyikan
juga dentang dada yang gegap berhentakan
duhai, nyata rindumu

dan pagi ini adalah segala keindahan itu
saat tak perlu lagi kau ragu di mana tuju

yakinlah perjalanan tak kan terasa jauh
sebab peta pun arah mata angin tlah rampung kau temu
dengan sebenar-benar keikhlasan, fa
di teguh hatimu


indah ip
30 februari 2004
12.50

*teruntuk seorang sahabat yang berjuang, a shofa