Tuesday, December 23, 2008

SENYUM IBUKU


senyum ibuku istimewa
kujumpa di mana-mana
tak cuma hari ini tapi setiap hari
lintas waktu lintas jarak
senyum ibuku selalu banyak

senyum ibuku setia
saat kecilku, ia rajin menunggu pulang sekolah di teras rumah
saat belajarku, ia tak lelah menyembur semangat pantang menyerah
saat salahku, ia sigap luruskan dan contohkan yang benar
saat besarku, ia pinjami kearifan dan rela jadi pagar
saat menikahku, ia bekali cinta dan kekuatan sabar
saat lepasku, ia hangati setiap kepak sayapku yang gemetar

kini setelah jauh
senyum ibuku tetap ada kapan saja
muncul di saat tepat
senyum ibuku selalu dekat

seperti setiap hari ketika di rumahku jadwal terpagi adalah dapur
dalam kantuk merencana sarapan
kutemu senyum ibuku di dalam kulkas
“selamat pagi, cinta! masak apa hari ini?”
menggeliat segar sekali!
di sebelahnya laukpauk, bumbu beku dan sayurmayur bahkan masih nyenyak tidur

seperti ketika jadwal berikut adalah tangkai sapu, kain lap dan segerombol alat tempur
berkali-kali menggeser meja, bangku, belepotan seluruh hambur
kuintip senyum ibuku di balik dinding
“selamat siang, cinta! bersenang-senang hari ini?”
ceria sekali!
anak-anakku tertawa bersamanya sambil menyanyi dan tahu-tahu aku ingin ikut menari

seperti ketika piring kotor, gelas dan panci tak pernah sepi di bawah keran
buru-buru menuang sabun, bolakbalik ke mesin cuci dan mengangkut baju dari jemuran
kulihat senyum ibuku di kusen jendela
“selamat sore, cinta! sudah minum kopi atau teh hari ini?”
ah ya, kenapa tidak?
kuambil jeda, menyesap wangi melati hingga hati lega, dan sesudahnya punya energi lagi!

seperti ketika bulan mampir, malam menua dan kutahu tak ada yang betul-betul selesai
ketika di kepala berloncatan rencana besok dan segudang hal yang masih tertunda
kujumpa senyum ibu saat bercermin, melengkung lebar di bayang lelah kelopak mataku
“selamat malam, cinta! sudah senyum hari ini?”
ow, hampir lupa!
kusudahi gelisah, sandarkan punggung sambil baca buku, memandang orang-orang tercinta yang lelap mendengkur, duhai, adakah yang lebih nikmat dari bersyukur? ya ibunda, aku bahagia!

senyum ibuku bunga
di hari-hari mudah ia mekar
di hari-hari sukar ia lebih mekar

senyum ibuku cahaya
di saat terang ia nyala
di saat gelap ia lebih nyala

senyum ibuku di mana-mana
terselip bukan cuma hari ini tapi setiap hari
lintas waktu lintas jarak
senyum ibuku selalu berserak

seperti ketika kangen selalu kutelpon ibu
“halo bunda, sedang apa disitu?”
“halo cinta, menjahit baju buat cucu!”
kutangkap menggelembung di gagang telpon
senyum ibuku membubung

senyum ibuku di mana-mana
beterbangan bukan cuma hari ini tapi setiap hari
lintas laut lintas mega
senyum ibuku perkasa

setiap hari menjumpa dan mengumpulkannya di hati
kurawat, kusimpan, kupelajari senyum itu baik-baik
kupinjam jiwanya, kuabadi kilaunya
kuharap suatu masa mampu wariskan hal yang sama
kepada anak-anakku kelak, ibunda
meski tak mungkin persis sama
kutahu tak mungkin sebanding sempurna



indah ip
‘selamat hari ibu, mom! we love you!’ ;-)
KL, 22-23 des 08 9.40 pm

Tuesday, December 16, 2008

SEBAGAI KALUNG KACA TERSANGKUT DI SARANG LABA-LABA SEHABIS GERIMIS
:buruli (pulung amoria kencana)



kenangan yang pernah kita punya begitu manis
dipertemukan musim yang tak selalu sama
dilukis alam dengan keindahan berbeda setiap ada

jumpa dan pergi biasa kita percayakan pada senyum dan pelukan
bukan lambai perpisahan
sebab bagi kita ketiadaan hanya ada dibatas almanak
bukan benak

maka setiap kali angin menguapkan rangkai itu
kita tahu begitu saja
ia cuma kan hilang sejenak
untuk kemudian menggumpal di samping matahari
menunggu waktu yang tepat jatuh kembali
membutir banyak
dan menjadi


indah ip
s’pore, 13-16 dec 08



Tuesday, December 09, 2008

SURAT TERAKHIR
:pulung amoria kencana (bunga rumput liar/buruli)

suatu hari dalam pencarian panjang
kutemukan jejakmu

dalam rumah bersahaja di dusun cijapun
jauh dari polusi hidung, hati dan mata
juga dari pohon-pohon kaku kota yang batu dan baja

di sana tak ada hingar bingar selain kicau burung dan riuh capung merubung
hujan jatuh ditampung lumbung, sungai-sungai dan hutan lindung

angin terbang tak berpenghalang
anak-anak rambut di kening dan tengkukmu mencintainya seperti juga batang-batang padi, akar umbi dan kacang
ketika dibawanya kabar padaku
suratmu bercerita tentang pokok-pokok coklat yang belum besar dan belum berbuah
juga tentang domba-domba dan kambing-kambing yang gemar menyanyi setiap pagi

rupanya binar matamu menular di situ, 'ri
seorang anak dusun jadi murid yang kau harap kelak bertambah satu-satu
mendengarnya aku lantas mimpi melamarmu

jadi guru bagi anak-anakku

kuingin mereka belajar tentang senyum yang dipunyai wajahmu, tentang embun yang membarukan hatimu tiap pagi, tentang hati yang tak kenal sunyi, tentang pelosok tersembunyi kanak-kanak yang seperti cuma engkau pandai memasukinya

kuingin mereka belajar menari sepertimu, mengenal tulisan-tulisanmu, belajar pijar bagai kembang api kemerdekaan, berkedip-kedip bagai bintang di langit malam, melayang bagai burung di langit siang, belajar mengurai kata tak terikat dan terbelenggu aturan tak penting namun tetap punya rasa semanis gula-gula, sesegar peppermint favoritmu, pedas menggigit yang pas, indah yang luwes dan bebas

kemudian angin membawa surat berikut kemari
kubaca hatimu sedang merona di padang hijau
bibit-bibit itu sudah buktikan janjinya
sederet helianthus bermekaran tepat di hari jadimu
"..hadiah terindah pangeran cinta buatku, 'ndah!"
lalu mata kalian diceritakannya jelma matahari
nyala yang cuma bisa terbaca oleh orang-orang cemburu dan penuh rindu
di punggung kalian jelma sayap peri
terbang yang cuma bisa terlihat oleh orang-orang mencinta dan pujangga

dalam surat-suratmu, 'ri
kutahu kau membangun rumah belajar dan rumah buku
masih seperti dulu, kau selalu rindu berbagi, cita-citamu mengajak dusun sekitar cinta baca dan cinta ilmu

ketika racun miang membuatmu demam dan harus mengungsi suatu kali
masih seperti dulu, kau pilih tak mengeluh tapi cerita sambil geli, menertawakan dan memaklumkan kondisi, meyakinkan semua teratasi

baru kemarin rasanya
kau, aku, pelan-pelan berharap waktu berpihak
kita tumbuhkan lagi memori, sambungkan lagi tali, menabung puisi dan cerita hari untuk kelak ditabur dalam reuni
tapi kita lupa mimpi bisa diinterupsi
bukankah selalu ada yang tak pasti dan tak bisa dihindari?

masih ingin kubalas surat-suratmu selanjutnya, 'ri

ingin kupinta kau berjanji suatu hari betul-betul pertemukanku dengan kunang-kunang sehabis hujan yang keluar masuk bilik-bilik bambu!
bagaimana kabar ladang yang sedang tumbuh menuju seratus persen organik itu?
jadikah kau tanam kembali biji-biji helianthus baru yang sangat banyak untukku?
adakah asoka merah dan kumis kucing di sekitar tanahmu yang bisa dihisap dan dicicip ujung manisnya saat kembang seperti kenangan kanak-kanak itu?
dapatkah dari sana kau tangkap jelas wajah bulan, jupiter dan venus begitu rapat sebagai mata dan senyum mengembang di langit barat menjelang petang awal desember ini?
akankah kau coba mencari-cari dan berharap melihat geminids, puppid-velids dan hujan-hujan meteor lainnya untuk diceritakan pada langit kotaku yang tak sejernih langit dusunmu?
masihkah sering lengking batuk dan sesak mengunjungi dan mengguncang-guncang bahumu saat musim berganti seperti dulu?
masihkah kau simpan scrapbookmu, kliping berita dan tulisan yang pertama kali kau lihatkan dengan ceria kepadaku di pameran lukisan ketika pertama bertemu?
adakah jari-jari lincah itu merindu denting piano di ruang tamu dan petik gitar dalam cengkok dangdut pun lagu matahari terbenam yang sering kita nyanyikan bersahutan di rumah hantu juga ditengah peluncuran buku?
akankah kau ajak aku menyeruput kopi, makan indomi, memecah kulit kacang garing dan mengupas kuaci sambil menanam puisi seperti masa lalu jika sempat kusambangi kelak dusunmu ?

berlembar-lembar kutulis surat untuk kelak dikirim kepadamu, ri, bahkan sebelum kau sempat membalasnya
kuminta angin menyimpan dan menerbangkan satu-satu di sela waktu tapi tak sempat

beberapa minggu sebelum jum'at itu tanpa sengaja kudapati puisi buatmu dicuri pengecut
"aku tentu ingat puisi itu, 'ndah, dan sampai hari ini masih terharu membacanya!"
lalu kau kirim sekeranjang peluk dan senyum menenangkanku
kau ajak aku tak padam dan mampu berpikir lucu
"senyumlah sebab pencuri itu menggilainya sebegitu!"
tawa terakhir kita pupus ketika kau janji mengabari lagi
ponselmu sedang mati
rupanya kali itu kau turun gunung sebab demam berjangkit lagi

betapa tak pernah kubayangkan menunggu jadi momen yang kunikmati, 'ri
sampai minggu lalu tak nyana harus berhenti

aku sedang menunggu seperti biasa ketika angin datang dari selatan
sekonyong-konyong langit pudar dan tangkai-tangkai petir datang menyambar
kenapa ada yang memeluk pundakku memohon sabar?
"ia sudah sampai", lirihnya
saat itulah kutahu jalanmu tunai

kau berangkat tak menuju kemari
angin memintaku rela tak lagi menanti

entahlah kurasa ada yang patah
entahlah kurasa mataku tumpah

kau sudah sungguh merdeka, ri!
tak lagi kau perlu peta

hari itu aku tak hendak melawan
kubiarkan hujan berputar-putar mengepungku semalaman
sebab hanya dengan cara itu mampu kulembutkan hati lagi
sebab hanya dengan cara itu mampu kubujuk gemetar hebat ini berhenti



indah ip
KL, 5-10 des 2008, 1.10 am

-----
Selamat sampai menujuNya, sahabatku perempuan pengembara(5 desember 2008, 14.20 siang). Semoga kau dapatkan tempat terbaik disisiNya bersama ananda Pulung Cikal Radjam (akhir mei 2006) dan Pulung Ndayang Radjam (3 september 2007). Semoga juga kau jumpa teman-teman kita, mbak inong yang lembut dan akidyoti yang bijak.

Kami merindumu, 'Ri, kami mencintaimu dan merasa begitu kehilangan. Tapi kami ikhlas. Semoga ditaburkanNya hikmah dan dibukanya hati kami untuk mencerna semua yang tak mudah ini. Kami berdoa semua amal dan kebaikanmu diridhoiNya. Aku bersyukur satu setengah tahun lalu menyempatkan diri mengunjungimu dan Syam sekian jam sebelum berangkat ke perantauan. Kau sedang istirahat, mungkin tidur, tapi Syam berkeras membangunkanmu karena kunjunganku. Itu terahir kali kita bertemu di rumah hantu. Belum sempat kukenalkan pada bidadari-bidadari kami, 'Ri, kau selalu ada di hati.

Syam, aku masih ingat bagaimana Ria bercerita pertamakali tentang dirimu dulu. Matanya, hatinya, tulisan-tulisannya, begitu lepas dalam inspirasi. Aku bahagia mengetahui Ria bahagia. Kalian sepasang hati yang saling lengkapi. Bunga-bunga matahari (Helianthus) itu begitu indah. Semoga sabar dan tegar. Doa kami menyertai."

Tuesday, November 11, 2008

INGIN IBU WARISKAN HUTAN KEPADAMU
: kira-ziya


jika tak bisa di belakang rumah kita
ingin ibu wariskan hutan
di dadamu

yang lebatnya memayungi tanah
berjarum-jarum sinar surya rindu menerobos dedaunnya tiap pagi
perak bulan bergelimang di pucuk-pucuknya kala purnama
cendawan menyembul di kaki-kakinya
serangga dan burung menyarangi dahan-dahannya
bunga liar rumpun tumbuh
rumput berebut di tiap sudut
jalan-jalan setapak berlumut
sungai-sungai jernih tak pernah surut

selain siul angin, hutan itu menyimpan begitu banyak merdu
ricik hujan menumbuk batu
derak ranting layu
kerisik perdu
dengung
lenting
decit
desis
ketuk
remuk
retak
gerak
getar
segala laku
segala lagu


miliki keragamannya nak,
juga keseimbangannya

miliki kekayaan warnanya,
juga wangi kebebasannya



indah ip

7 nov 08, 14.02 pm

Friday, October 31, 2008

KERABU PUCUK PAKU BUAT OMA


mayang tipis bunga kantan
adalah puncak rahasia purba
jatuh senyummu berebutan
ke atas meja


indah ip
28 okt 08-11 okt 08


Catatan:
Kerabu pucuk paku (berbeda dengan gulai paku khas padang ya) adalah hidangan khas di Malaysia berupa sayur paku(pakis) yang pucuk-pucuk mudanya dicelur (diseduh) air mendidih kemudian digaulkan (dicampur) dengan tumbukan cabai, sedikit belacan (terasi),sedikit udang kering, bawang, kerisik(kelapa yang digongseng kering tanpa minyak hingga kecoklatan), terakhir disiram perasan limau nipis atau kesturi, mayang (iris) bawang besar dan sedikit bunga kantan(kecombrang).


WAJAH BULAN

pengemis kecil memicingkan mata
perutnya lapar, badannya kumal, kakinya penuh luka
di tepi selokan ia panjat mimpi
terbang ke bulan bersama peri
mengganti kawah kelinci dan nenek pemintal benang
dengan kerut wajah ibu dan senyum yang tak kunjung datang

indah ip
25 okt 08, 12.31 am

Tuesday, October 14, 2008

TENTANG PETAK SEMPIT ITU
: kira-ziya


kau bertanya kenapa masih saja ibu jejalkan segala biji dan umbi ke petak sempit di belakang rumah kita meski tak pasti bisa hidup atau tidak

hari itu seperti juga hari-hari lain ibu masih tak punya jawaban selain senyum manis dan rengkuh lengan mengajakmu turut

ibu mungkin tak tahu ilmu tanah, ilmu berkebun, ilmu tanaman
tak tahu ilmu humus, ilmu pupuk juga segala penyubur tumbuhan

ibu cuma tahu setiap jengkal yang kita miliki begitu berharga

setiap biji yang kita makan daging dan kulitnya punya kesempatan hidup
setiap bumbu dapur yang mulai kering dan tak dipakai dalam waktu dekat lebih baik busuk di tanah daripada busuk di rak plastik atau lemari penyejuk

biar waktu membuktikannya padamu

kelak entah kapan kita akan rindu desir angin dan nyanyi hujan di sela daun, kerisik ranting, kepak rama-rama, mekar bunga, teduh pepohon, wangi rumput basah dan ranum buah
kelak entah kapan kita akan kehilangan merah, kehilangan jingga, kehilangan kuning, kehilangan hijau, kehilangan biru, kehilangan nila, kehilangan ungu, kehilangan warna jika luput mengabadikannya sekarang

atas tanyamu waktu itu
sekali lagi hari ini ibu tak punya jawaban selain makin manis tersenyum dan makin sering mengajakmu turun

mari nak, jangan tunda
petak kecil ini adalah mula!



indah ip
15 okt 08, 1.50 am

BUKAN DONGENG
:kira-ziya


nak, maafkan ibu
akhir-akhir ini waktu membaca denganmu seringkali terinterupsi
mata di buku tapi telinga di tv
kita jadi kerap tiba-tiba henti mendongeng puteri, peri-peri dan bidadari

baru sadar makin banyak manusia tak punya mata, tak punya hati, tak punya telinga
makin banyak temanmu tak punya sandang, tak punya pangan, tak punya papan

kehidupan ini nak, menyimpan begitu banyak cerita yang entah sempat entah tidak dapat ibu sampaikan
selain dongeng tawa juga ada dongeng air mata
selain kisah maya juga ada kisah nyata
buku bisa ditunda dan sebentar kita genapkan
tetapi hidup berjalan terus
ia maju ke depan tak mundur ke belakang
ia koma sejak dimulai dan tamat baru ketika titik kelak ditujahkan

nak, maafkan ibu
seringkali lupa bahwa tangis tak selesaikan apa-apa
kau pasti heran kenapa ibu kehilangan kata
ijinkan sebentar saja berkaca
bukan terharu membaca cinderella, itik buruk rupa atau dongeng ternama lainnya
ibu cuma tiba-tiba malu teringat khilaf dan alpa

betapa hati sering jumawa
padahal raga belum lagi berbuat apa


indah ip
14 okt 08,11.48 pm

Wednesday, September 24, 2008

DUALIMA TAHUN, BESJI
:pantai besji, jayapura


dualima tahun beta tinggal besji
beta masih mimpi tiap hari
pi makan jagung pagi-pagi
pi kejar-kejar bulu babi
pi cari bintang laut mati
pi pegang ikan warnawarni
pi pungut umang-umang di kaki
pi bangun istana pasir di tepi

dualima tahun beta tinggal besji
beta masih rindu tiap senja
kitorang bonceng vespa papa
duduk di bawah pohon kelapa
temani ombak-pasir bercinta
dengar bisik angin di telinga
tunggu langit turun magenta
sebelum pulang ke peluk mama



indah ip
KL, 18 sept 08, 4.00 am

catatan:
pi = pigi = pergi
kitorang = kita orang



JAYAPURA 1


ada saat beta ingin melukis laut
yang kini jauhnya tra dibelah jurang melainkan negeri
terumbu hijaunya saat fajar kembang
pasir emasnya saat petang rembang
sampan-sampan lepas dengan tiang merobek langit
mercu suar sendiri dengan mata angkuhnya yang sepi
bintang-bintang jatuh tak cuma di wajahnya tapi juga lembah-lembah yang memeluknya

ada saat beta ingin melukis laut
meski mengingatnya mencipta damai sekaligus badai
rindu nikmat sekaligus nyeri

tra usah kasih beta obat pun penawar!
biar beta hadapi dengan berani dan sadar

rindu ini, jayapura
abadi


indah ip
KL, 22 sept 08, 1.30 pm

catatan:

tra= tara = tidak



JAYAPURA 2


dari teras bukit itu
waktu kecil dulu
pernah beta simpan lazuardi
angkasa biru
laut biru
pohon biru
gunung biru
lembah biru
gradasi serasi langit bumi
yang beta bawa-bawa pergi
dan kian hari
kian patri


indah ip
23 sept 08, 4.00 am

Friday, August 29, 2008

SUBUH
:kira-ziya


bangunlah pagi-pagi sekali, nak
setiap hari
waktu paling sunyi, paling rahasia
waktu embun jaga
satu dari sekian nikmat paling mahal yang sering kita lupa

bagunlah pagi-lagi sekali
setiap hari
waktu hati paling luas, paling baru
dan hidupkan subuhmu!
satu dari sekian nikmat paling cahaya yang kelak menuntas gelapmu

indah ip

KL, 29 agustus 08, 4.00 am

Wednesday, August 20, 2008

MERAH PUTIH DI DADAMU
:kira-ziya


kami tanam merahputih sejak benih
harap tumbuh besar dan mengakar kuat di dadamu
harumnya lekat di nafasmu
semangatnya didih dalam darahmu

kami tanam merahputih sejak benih
harap kau jaga dan cintai ia sepenuh waktu
sebagaimana ibu dan ayah menjaga dan mencintainya selalu
harap kau rindu dan kibarkan ia sepanjang hidupmu
sebagaimana ibu dan ayah merindu dan mengibarkannya juga selalu

kami tanam merahputih sejak benih, anakku
dalam-dalam di dadamu
di tempat mana tak sesiapapun bisa merenggutnya begitu saja tanpa perjuangan
di tempat paling jernih abadi
tempat sesungguhnya letak kemerdekaan sejati


indah ip
17 agustus 2008
01.00 am

Sunday, May 18, 2008

MENCARI KUNANGKUNANG


ziya mencari kunangkunang
dipakainya sepatu
dibukanya pintu
“hendak ke mana, sayangku?”
“bertemu kunangkunang di zoo!”


indah ip
18 mei 08, 11.10 pm



MENJADI PUTERI

kira ingin jadi cinderella
dibawanya tongkat
dipakainya tiara
“hendak ke mana, sayangku?”
“mencari pangeran di istana!”


indah ip
18 mei 08, 11.20 pm

Monday, February 25, 2008

AYAHANDA 3
: papa

rupanya hari sudah jingga

ke mana perginya pagi
begitu lekas ia lari

andai bisa kejar kembali
ingin kuulang segala dari mula lagi


indah ip
26 feb 08, 7.52 am

AYAHANDA 2
: papa

dadamu padang teramat luas

tempat ribu kupukupu lepas
ilalang tumbuh bebas
langit melengkung tak punya batas



indah ip
26 feb 08, 7.50 am


AYAHANDA 1
: papa

bahumu karang teramat kuat

tempat ombak pecah
badai patah
burungburung hilang menemu rumah

indah ip
26 feb 08, 7.46 am

Thursday, February 14, 2008

MENGAPA MASIH



dekat di ujung jari
dan aku purapura tak tahu

nyaring di daun telinga
dan aku purapura tak dengar

tampak di depan mata
dan aku purapura tak lihat

serumu. kutahu. selalu dan selalu sampai
mengapa
masih juga batu dan lalai

waktu. kutahu. sesingkat kelebat bayang
mengapa
masih juga lupa sembahyang

indah ip

14 feb 08, 8.26 am

Wednesday, January 02, 2008

MIMPI
: kira-ziya


anakku, pernah ayah ibu bangun dengan mimpi berbeda tiap hari

ayah mimpi kau jadi pianis
Ibu mimpi kau jadi penulis

ayah mimpi kau jadi dokter
ibu mimpi kau jadi insinyur

ayah mimpi kau jadi angin
ibu mimpi kau jadi hujan

ayah mimpi kau jadi matahari
ibu mimpi kau jadi bulan

tapi bukankah kapal ini engkau yang mewarisi,
samudera ini engkau yang melayari?

maka anakku, engkaulah sang pencari!
bukan kami penentumu menjadi
engkaulah seharusnya penemu kunci!
ayah ibu hanya bisa membekali

jadi bersungguhlah mengarung terus dan terus
jangan biar siapapun buat mimpimu hapus

sepanjang jalan cermat dan tangguhlah sebagai nahkoda
pandai-pandai membaca cuaca dan mata angin
sebab kalau salah, sesat nanti
pandai-pandai menerjemah badai dan gelombang
sebab kalau lengah, hempas nanti

kini ayah ibu masih selalu bermimpi
namun dengan cerita yang sama tiap kali
:
berujung di manapun perjalanan itu nanti
kami mimpi masih ada di sini

di sampingmu mendampingi
di belakangmu melindungi
menyediakan bahu dalam duka
senyum bersamamu dalam bahagia

sebagai apapun kelak engkau menjadi
satu hal pasti
ayah ibu selalu mencintai


indah ip
2 nov 07, ultah kira ziya ke-2