Friday, November 27, 2009


Telah Terbit! 

Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara 
"Musibah Gempa Padang"










Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara "Musibah Gempa Padang".
 

Selenggara & Pengantar: 
Dato' Dr. Ahmad Khamal Abdullah

Penerbit: 
eSastera Enterprise dan Masjid Abdul Rahman Bin 'Auf, Kuala Lumpur Malaysia, 2009



Memuat puisi-puisi dari penyair Malaysia, Indonesia dan Singapura:
Kemala, Akmal Jiwa, Airiel Uzayr, Fitri Susila, Silfia Hanani, Ahmad Kekal Hamdani, Asep Sambodja, Hasyuda Abadi, Shahrul Nizam, Benny Tjundawan, Rini Asmoro, Ramlan Abd. Wahab, Ahmad Najiullah Thaib, Haizir Othman, Mokhtar Ramhan, Kardy Said, Kirana Kejora, M. Faizal Ghazali, Jun An Nizami, Zahrul Badawy M. Daud, Zainal Aka, Muhammad Subhan, Sepri Handayani, Viddy AD Daery, Doel CP Allisah, Happy Muslim, A. Muziru Idham, Raja Rajeswari Seetha, Harsandi Nugraha, Badrul Munir Chair, Nilamsuri, Zera (Gasim Baharun), Budhi Setyawan, Sarah Serena, Ratnaputri2, Yayan R. Triyansayah, A. Rahman Al Hakim, Abdullah Khusairi, Rama Prabu, Mimin, Jack Efendi, Dr. Victor Pogadaef(Rusia), Emmy Marthala, Arbak Othman, Maulina Muzirwan, Eziz Shukman, Kerisakti, Ahkarim, Zek Marman, Abdullah Jones, Ms. Mokhtar, Hasimah Harun, N. Faizal, Musalmah Mesra, Mohd. Dahri Zakaria, Design Night, Azmi Rahman, Kalamutiara, Mokhtar Rahman, Yajuk, Anugrah Roby Syahputra, Pringadi Abdi Surya,  Putri Pratama, Kartika Kusworatri, Lim Swee Tin, Haniff Romainoor, Teratakerapung, Wan Nur Ilyani Wan Abu Bakar, Anbakri, Indah IP, Elmi Zulkarnain, Haimi Yahya & Fairuz Sulaiman, Juan Einriqie, Yo Sugianto, Fikar W. Eda, A. Rahim Qahhar, Azmi Rahman, HMS. Abu Bakar, Fitriani Um Salva, Dwi Mita Yulianti, Amien Wangsitalaja, Irwan Abu Bakar, Ahmad Khamal Abdullah.



Pemesanan: 
Kirim email ke: dato_kemala@yahoo.com  (Dato' Dr. Ahmad Khamal Abdullah)

Harga RM30/per eksemplar (termasuk biaya pos udara)

No. Rekening : 0 1 4 2 3 5 4 0 3 6 0 2
Maybank Kompleks Bandar Kuala Lumpur atas nama Masjid Abdul Rahman bin Auf.

Wednesday, November 18, 2009



"SOP KONRO BAGI JIWA"

 Nantikan di toko-toko buku terdekat mulai minggu depan!








Kebayang duuuoong, nikmatnya penganan khas Makassar yang satu ini?


SOP KONRO, Sop berkuah dengan bahan-bahan dasar seperti tulang rusuk sapi atau kerbau, dimasak/dibakar dengan bumbu ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, garam, penyedap rasa, yang dimakan panas-panas bersama nasi putih dan sambal pedas. Slllrrrrpppp!


Nah, yang bakal terbit ini memang bukan untuk dimakan, tapi efeknya sama jika dibaca! Nikmat dan mengenyangkan bagi jiwa. 
Gak percaya? Makanya baca dan buktikan sendiri! :-)


Buku terbaru dari 
Komunitas Penulis Makassar Angingmammiri, 


 

Berisi 45 tulisan inspiratif dari para blogger yang tergabung dalam kommunitas blogger_makassar@yahoogroups.com, diterbitkan oleh Gradien Mediatama.

Isinya terdiri atas 3 tema utama (masing-masing tema terdiri dari 15 kisah), yaitu:
Tentang Cinta, Pengorbanan, dan Persahabatan,  
Tentang Sudut Pandang dan Pengajaran,
Tentang Rasa Sakit, Kehilangan, dan Ketabahan 


Empat orang koki peraciknya adalah Khalid Mustafa (Daeng Kulle), Amril Taufik Gobel (Daeng Battala), Muh. Ruslailang Noertika (Daeng Rusle), dan Syaifullah (Daeng Gassing) serta dibantu oleh “sekretaris koki” Anhie Wardiani.

So, siap-siap pantengin toko-toko buku dan nabung dari sekaraaaang!!

Untuk apa??

Ya untuk beli buku SOP KONRO BAGI JIWA yang banyaaaak dan menghadiahkannya kepada sohib, teman, saudara, kakak, adik, nenek, kakek, om, tante, dan semua orang yang kamu sayangi dan cintai !!

Monday, November 09, 2009

MUNGKIN TAK 'KAN MAMPU


dik,
mungkin tak kan mampu uni pijakkan kaki kembali
di tanah itu

di tempat mana pernah kita kunyah beruas-ruas tebu sambil tertawa
memandang polah beruk pemetik kelapa,
di dekat mana puluhan jenjang berlumut pernah bolak-balik kita turuni
menuju mata air jernih di samping surau tua,
di sisi mana pernah tertancap tiang-tiang kokoh penyangga atap bergonjong yang kini rubuh dan tertanam dalam
bersamamu



indah ip
31 oktober 2009, 24.00

Uni = kakak perempuandalam bahasa Padang

Tuesday, October 27, 2009

ANAK-ANAKKU SENANG MENGGAMBAR

: kira, ziya


disatukannya ikan, kangguru, singa, kura-kura
di hutan rimba

diciptanya rumah-rumah bercahaya
dengan banyak dapur, pintu dan jendela


kata siapa warna-warni
cuma milik kupu-kupu, milik bunga, milik pelangi?

kata siapa putih dan abu-abu, 
cuma milik awan bergelayut yang paling rindu pulang ke laut?

anak-anakku senang menggambar
kapan saja, di mana saja, imaji itu mekar


dilukisnya senyum ibu
sepanjang dinding, seprai, kulit sofa

diukirnya hati ayah
sepenuh lemari, rak sepatu, meja-meja


setiap sisi di rumah kami
adalah kanvas tak pernah sepi

tempat tangan-tangan peri lentur menari
mimpi-mimpi lesat berlari

11 jun 2009, 9.59

Saturday, October 17, 2009

HARI PERTAMA ANAK-ANAKKU PERGI SEKOLAH

: kira, ziya

di kelas
ada yang bergegas jatuh
ke atas kertas

di dapur
ada yang berulang tak jua pas
ditabur

kau,
sejak kapan bukan peri kecilku
lagi?

aku,
sejak kapan begitu cemas kehilangan
arloji?


indah ip

8 jun 2009, 5.00

Friday, September 04, 2009

POHON SAGA


dalam riang anak-anakku mengantongi bunga kering
ada yang tiba-tiba buatku bergeming

ia di situ
tegak menjulang
mengingatkan negeri seberang
tempat mimpiku selalu pulang

engkaukah itu yang sesayup gemerincing?
engkaukah itu yang memanggil-manggil sering?

sepohon rindang masa kecil
dan buah-buah merah berseraknya yang mungil
adalah taburan masa indah
yang kuingin juga anak-anakku punya

suatu masa di ujung taman
sebutir saga kugenggam
sebutir kenang di mataku
menjeram


indah ip
15 feb 09, 9.39 am

Monday, August 17, 2009

POHON JAMBU DAN BEO


dari empat pohon jambu di depan jendela
satu yang acap dikunjungi burung itu
yang paling kurus dekat pintu
juga paling tebal rambutnya bersalut debu

pagi buta sebelum lampu jalan mati
beo akan menyanyi sampai lahir matahari
lalu pohon akan mabuk ke kanan ke kiri
saat tinggi hari baru mereka henti

kepala pohon lebih sering berhias jelaga daripada bunga
dimakan asap badannya hitam merana
tapi beo setia mencinta tanpa syarat
tak seharipun lupa merapat

pernah sehabis hujan pohon jambu berbunga warna-warni
ia jadi secantik dewi-dewi
tapi tiada kumbang berhasil ajaknya menari
kuratapi jarum-jarum tak jelma buah gugur kembali

pernah tukang kebun mencukur rambutnya semena-mena
dipangkasnya hingga tak lagi rimbuni jendela
setiap hujan tumpah atau angin kembang
kurindu dahan-daunnya decit-decitkan kaca

jika pohon luka
esok pagi nyanyi beo seperti sembuhkannya

jika pohon sepi
esok pagi nyanyi beo seperti selaminya

jika pohon rindu
esok pagi nyanyi beo seperti memeluknya

jika pohon tak sempurna
tiap pagi nyanyi beo seperti lengkapinya

saban subuh kutempel wajah di jendela
jika sesudah adzan beo belum datang
entah kenapa
hatiku yang gugup gemetar
melihat pohon menunggu sabar



indah ip
KL, 3 mar 09, 5.00 am

Sunday, June 28, 2009

RUMPUT


nak, jika kelak terasa berat pundakmu
ringankanlah mata ke petak belakang rumah kita
kan kau jumpa makna sabar dan istiqomah
pada sekelompok rumput yang hidup rapat berjamaah

berkali-kali terpijak rumput itu kan rebah
namun lihatlah berkali-kali pula ia kan bangun kembali gagah
berkali-kali rebah kadang rumput itu patah
namun lihatlah berkali-kali pula ia kan tumbuh tak menyerah

mengamati rumput kan kau temu hikmah
berada di bawah tak berarti kalah
berada di bawah adalah belajar luaskan pandang ke banyak arah
berada di bawah adalah belajar meneguh kaki agar tak goyah
berada di bawah adalah belajar berbagi, belajar bersyukur, belajar menampung segala tumpah, belajar mencerna segala sampah
berada di bawah adalah waktu yang mahal, untuk belajar menerima sekaligus belajar tak lemah

indah ip
9 feb 09, 2.22 am


http://www.warnaislam.com/rubrik/puisi/2009/6/4/15600/RUMPUT.htm

Sunday, May 24, 2009

TELAH TERBIT: BUKU "LONG DISTANCE LOVE"


Judul Buku:
LONG DISTANCE LOVE, Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang Saat Aku Tak di sisimu, Sayang?

Penulis: Imazahra, dkk

Kontributor:
Andi Sri Suriati Amal, Alan Ridlon Suyudana, Dani Ardiyansyah, Desti J Basuki, Dian Onasis, Dian Akbas, Etta Erinda, Eva Y. Nukman, Fitria Chakrawati, Irawati Prillia, Indah IP, Lizsa Anggraeny, Leila Rizki Niwanda, Rosita Sihombing, Syaifuddin Sayuti, Shanti Saptaning, Suci A- Sadiq, Titin Fatimah, Vanny Mediana, Revina Octavianita, Wiwit Wijayanti, Yudith Fabiola, Zakiah Dauli, Ziyan Ahyadi

Harga: Rp. 42.500,-
ISBN: 978-602-843-601-4
Tebal: 332 Hal
Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (LPPH), 2009

Ringkasan:
Terpisah jarak, ruang dan waktu, mungkin menjadi ujian cinta terberat bagi sepasang kekasih. Lantas bagaimana dengan mereka yang secara nyata hidup terpisah? Terikat pernikahan tapi terbentang jarak di antara mereka.

Cinta dalam bentuk apa yang bisa mereka pertahankan? Dari manakan dan dengan cara apa mereka dapat saling menguatkan cinta?

Long Distance Love (LDL) menghadirkan beragam mozaik perjalanan mereka yang menjalani hubungan cinta jarak jauh. Suka-duka, konflik, keunikan, hingga romantisme berbaur menjadi satu. Dan kita pun akan mengerti, bahwa di sinilah rupanya, para pecinta ini menemukan keindahannya.



Luar biasa! Buku ini begitu tajam dan menyentuh! Saya berkali-kali menyusut air mata, tersenyum dan terhenyak saat membacanya. Distulis berdasarkan kisah nyata para penulisnya, kumpulan kisah ini akan membungkam mereka yang memandang sebelah mata hubungan LDL. Menggugah!
Waheeda el Humayra, Penulis buku best seller The Sacred Romance of King Sulaiman and Queen Sheba.
Membaca buku yang indah dan mengharu biru ini, saya belajar lagi tentang kekuatan cinta dan kesabaran. Yang luar biasa, semua kisah di buku ini adalah nyata, dan senyata itu pulalah keajaiban cinta yang bisa terwujud di antara sepasang insan yang menjalin kisah di jalan-Nya.
Dina Y. Sulaeman, Penulis buku best seller Doktor Cilik Hafal Al-Quran, Pelangi di Persia dan Ahmadinejad on Palestine.

Tuesday, May 19, 2009

HUTAN DI MATA ANAK-ANAKKU
: kira-ziya


mata anak-anakku menyimpan hutan sangat lebat
di sana berkejaran pohon-pohon tanya
ranting-rantingnya jauh
daun-daunnya rimbun penuh

setiap mengunjunginya
kusiapkan kamus dan peta baru
sebab ingin kutelusur ruas-simpang berbeda
ingin kuterjemah rambu-tanda tak sama

sejak kecil sebelum bibir mereka fasih bercerita
mata anak-anakku sudah lancar berbicara
tak ada yang luput ditingkahi tanya
kunikmati gelisah pun gairah menyala-nyala

dari bangun tidur hingga tidur lagi
hutan di mata anak-anakku tak henti menjulang
bunga-bunga tanya tak henti kembang
buah-buah tanya tak henti matang

ketika tersenyum
hutan itu melenting-lentingkan cahaya
ketika menangis
hutan itu menarik-narik kuat

ingin kulindungi hutan di mata anak-anakku setiap sempat
tapi kutahu ia tak perlu pagar melainkan ruang
pohon-pohon itu kan mencapai matahari dengan caranya
maka kulepas jarak, memastikannya leluasa bergerak

jika angin kencang kelak melempar buah-buah tanya
tak pada tempatnya
aku berharap ada di sana
tak jauh-jauh darinya

siap berlari sampai waktuku
menampung, memberi rasa aman
memastikan benih-benih berani bertunas lagi
tinggi bebas
di ruang luas


indah ip
2 apr 09, 11.40 pm

Tuesday, April 28, 2009

SAHABAT


pohon bakau itu tahu betul bagaimana sahabat-sahabatnya pergi
seperti ikan-ikan terdahulu
nafasnya hilang satu-satu
sebelum gemetar
dan terkapar

ikan kecil itu tahu betul bagaimana sahabat-sahabatnya pergi
seperti pohon-pohon bakau terdahulu
rantingnya layu satu-satu
sebelum ruku
dan batu

manusia itu tak pernah tahu bagaimana sahabat-sahabatnya pergi
seperti pepohon bakau dan ikan-ikan yang tak henti memberi
tiba-tiba saja ia sudah tinggal sendiri
menggigil ngeri
: waktu tak pernah kembali


indahip
6 feb 09, 10.05 am
HUJAN DI WAJAHMU
: bogor


rupa-rupa hujan pernah kukenal
di wajahmu

di teras terminal itu
kusambut ia beberapa kali

ada hujan tak berapa lebat
yang acap lari tergopoh-gopoh
di sela batuk kendaraan umum, sumpah serapah, caci-maki
juga wajah-wajah lelah supir angkot, tukang ojek dan taksi
yang laju tak perduli

ada hujan deras berpetir
yang gemar memaku tajam semena-mena
jalan raya, selokan, pepohonan
juga kepala payung-payung yang tumbuh di tangan-tangan penjaja kecil
yang tak henti menggigil

ada hujan sepintas
yang takut-takut beringsut
tak pernah tunai melukis baju para pejalan pun wajah keruh comberan
sekedar lewat lalu hilang dalam hiruk-pikuk membonceng angin
terbang entah kemana

ada hujan tiba-tiba tanpa tanda dan musim,
ada hujan setia enggan berhenti,
ada hujan sesenggukan malam hari,
ada hujan ceria pagi hari,

tapi di antara semua
satu kusimpan paling purba
dalam ruang tanpa jendela yang tak kubagi sesiapa

hujan gerimis malu-malu jelang senja
ditingkahi jurai tipis matahari
saat langit lengkung warna-warni
suatu waktu
sebelum tinggalkanmu


indah ip
26 mar 09, 9.30 am

Sunday, April 05, 2009


TEJA


ia adalah teja

api langit senja yang langka
serat-serat emas jingga yang mendada


indah ip
KL, 10 mar 09, 11.20 am

Monday, March 09, 2009

IBU POHON




kucintai sebuah taman penuh merpati
tempat anak-anakku gembira berlari
di sana kukenal ibu-ibu pohon yang ikhlas dan perkasa
setiap hari angin memetik anak-anak daunnya yang kuning dewasa
untuk ditidurkan di tanah
atau diterbangkan ke banyak arah

di musim bunga
kupu-kupu dan lebah diundangnya menari sampai lelah
lalu sabar ditunggunya keajaiban
saat putik-putik buah tumbuh ranum perlahan

di musim kemarau
akarnya menjulur-julur lebih keras menyerap segala tuk dialirkan
dikuatkannya pucuk-pucuk muda
dilepaskannya ranting-ranting renta

semakin mengenal semakin kutahu

di musim panas dan musim hujan
ibu-ibu pohon adalah pelindung
makin tua makin lebar menjadi payung

di segala musim sepanjang masa
ibu-ibu pohon adalah pencinta
selalu memberi tak pernah meminta



indah ip
KL,14 feb 09, 1.40 am

Thursday, January 15, 2009

APA KIRA-KIRA DISAMPAIKAN MUNCUNG SENJATAMU ITU, TUAN SERDADU


apa kira-kira disampaikan muncung senjatamu kepada bocah kecil menganga didepannya itu, tuan serdadu
tertawa dan bilang ini perintah semata?
atau pura-pura gila dan bilang ups! tak sengaja meletuskan ayah, ibu dan abangnya di depan sana?

apa kira-kira disampaikan muncung senjatamu setiap hari kepada bumi yang makin lelah dan renta itu, tuan serdadu
minta maaf dan harap maklum karena lagi-lagi perlu menggagahi dan mengotori?
atau sama sekali tak perduli dan berharap hujan tiba-tiba muntah memupus segala memori?

apa kirakira disampaikan muncung senjatamu kepada peluru-peluru yang tersumpal di dadanya itu setiap hari, tuan serdadu
usah gentar usah gemetar, anggap ini perang sekedar?
atau sudahlah! pasrah saja sebab hidup toh cuma sebentar?

apa kira-kira disampaikan muncung senjatamu kepada malam ketika tak jua ia bebas untuk istirah, tuan serdadu
demi harga diri, setia tak lelah dan tak ingin menyerah?
atau sebegitu ia tak ingin kalah sebegitu ia gairah sebegitu ia haus darah?

apa kira-kira disampaikan muncung senjatamu kepada dua belah tangan yang tiap sebentar meremas, mencengkeram, mengokang, menodong dan menarik pelatuk itu, tuan serdadu
bahwa jari-jemari dan dirinya adalah sahabat karib paling serasi yang saling lengkapi dalam eksekusi?
atau sesungguhnya ia lega sebab tak sendiri, tak satu-satunya pemegang kunci atas pencabutan masal nyawa-nyawa suci ?

apa kira-kira disampaikan muncung senjatamu ketika tersungkur kelak mengganti muncungmu bersaksi di pengadilanNya itu, tuan serdadu
masihkah ia kan pura-pura bisu pura-pura beku pura-pura batu?
mampukah ia masih pura-pura tak tahu pura-pura tak ngilu pura-pura tak malu?


indah ip
"doa kami, Palestina.."
KL, 12 jan 09, 3.00 am

Wednesday, January 07, 2009

KAU TAHU ADA SESUATU


nak, cepatlah besar
hingga tak perlu ibu simpan terlalu lama sembilu
tak perlu bersopan-sopan menunggu

bu! apa itu perang?
bu! apa itu yang menggenang?

tak pernah mudah sembunyikan gelegar dari telingamu
tak pernah mudah alihkan gambar dari matamu
tak pernah mudah sederhanakan jawab atas tanyamu
tak pernah mudah hapuskan perih dari sejarah waktu

di depan kita terbuka lebar negeri-negeri yang berkobar
tank-tank memagar
senjata-senjata mengejar
roket-roket memancar
batu-batu terlontar
anak-anak suci tak sempat besar
bangkai-bangkai hitam terkapar
asap, air mata dan darah berpusar-pusar

bu! apa itu menganga?
bu! siapa itu yang murka?

nak, cepatlah besar
ibu tahu kau tahu ada sesuatu
ibu takut tak mampu lebih lama menunggu

di dadamu beribu tanya memburu
di dada ibu beribu jawab membiru



indahip

" duka kami, palestina.."
KL, 6 jan 09, 11.55 am