Monday, August 17, 2009

POHON JAMBU DAN BEO


dari empat pohon jambu di depan jendela
satu yang acap dikunjungi burung itu
yang paling kurus dekat pintu
juga paling tebal rambutnya bersalut debu

pagi buta sebelum lampu jalan mati
beo akan menyanyi sampai lahir matahari
lalu pohon akan mabuk ke kanan ke kiri
saat tinggi hari baru mereka henti

kepala pohon lebih sering berhias jelaga daripada bunga
dimakan asap badannya hitam merana
tapi beo setia mencinta tanpa syarat
tak seharipun lupa merapat

pernah sehabis hujan pohon jambu berbunga warna-warni
ia jadi secantik dewi-dewi
tapi tiada kumbang berhasil ajaknya menari
kuratapi jarum-jarum tak jelma buah gugur kembali

pernah tukang kebun mencukur rambutnya semena-mena
dipangkasnya hingga tak lagi rimbuni jendela
setiap hujan tumpah atau angin kembang
kurindu dahan-daunnya decit-decitkan kaca

jika pohon luka
esok pagi nyanyi beo seperti sembuhkannya

jika pohon sepi
esok pagi nyanyi beo seperti selaminya

jika pohon rindu
esok pagi nyanyi beo seperti memeluknya

jika pohon tak sempurna
tiap pagi nyanyi beo seperti lengkapinya

saban subuh kutempel wajah di jendela
jika sesudah adzan beo belum datang
entah kenapa
hatiku yang gugup gemetar
melihat pohon menunggu sabar



indah ip
KL, 3 mar 09, 5.00 am